Mengenal Istilah EBITDA, Fungsi, Serta Perhitungan dan Rumusnya
Harmony Blog
Tax
Mengenal Istilah EBITDA, Fungsi, Serta Perhitungan dan Rumusnya
July 10, 2020
Berlangganan newsletter kami
Dapatkan Tips Seputar Pajak Dengan Berlangganan Newsletter Harmony, isi data berikut ini :

Didalam dunia bisnis tidak luput dari ilmu akuntansi dan perpajakan. Begitu banyak istilah – istilah dalam dunia bisnis akuntansi yang cukup membingungkan bagi sebagian orang. Dalam Salah satunya adalah istilah perhitungan EBITDA.

Istilah perhitungan EBITDA adalah sebuah singkatan, kata “EBITDA” ini  singkatan dari Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Perhitungan EBITDA merupakan perhitungan keuntungan perusahaan, namun tidak dapat dijadikan acuan dalam laporan keuangan yang baik.

Pengertian dalam bahasa Indonesia perhitungan EBITDA ini menjadi sebuah pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Atau secara sederhana perhitungan EBITDA ini menjadi sebuah perhitungan laba perusahaan sebelum dikurangi dengan 4 komponen di atas.

Untuk dunia perpajakan, bagi sebagian orang belum paham akan manfaat membayar pajak bagi perusahaan, sehingga tidak sedikit orang yang salah paham dalam membayar pajak.

Umumnya, istilah perhitungan EBITDA merupakan alat yang digunakan untuk mengukur performa keuangan sebuah perusahaan.

Definisi Perhitungan EBITDA

Perhitungan EBITDA adalah suatu catatan pendapatan pada sebuah perusahaan yang belum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Yang dimana, berfungsi untuk melihat keuntungan atau profit perusahaan, walaupun belum baru setengah jadi.

Perhitungan EBITDA (Pendapatan) dengan kata lain EBITDA margin . EBITDA margin adalah rasio profitabilitas yang mengukur berapa banyak laba yang dihasilkan perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, sebagai persentase dari pendapatan.

Berdasarkan opini dari seorang investor dan pengusaha asal Amerika Serikat, Warren Buffet, perhitungan EBITDA merupakan indikator finansial yang tidak ada artinya atau dapat diartikan tidak dapat memberikan ilustrasi yang benar tentang pendapatan bisnis.

Perhitungan EBITDA bukanlah sebuah laporan keuangan yang dapat memperlihatkan arus kas yang baik, yang kemudian dapat digunakan untuk menilai bisnis, hal ini karena beban-beban perusahaan tidak masuk dalam hitungan EBITDA.

Komponen EBITDA

EBITDA terfokus pada keputusan operasional bisnis dengan landasan keuntungan bisnis dari aktivitas inti perusahaannya.

Berikut Arti singkatan dari EBITDA dapat dirinci yaitu:

1. Earnings (Penghasilan)

Singkatan yang pertama adalah earnings atau dapat disebut dengan penghasilan. Penghasilan perusahaan disini tidak hanya dari hasil penjualan, tapi dari apapun yang didapatkan sebagai hasil dari usaha bisa disebut dengan penghasilan, dimulai dari hasil penjualan, aset perusahaan, deposito, surat berharga, modal, dan lainnya.

Baca Juga : Penjelasan Koreksi Fiskal, Jenis dan Contoh Penerapannya

2. Interest (Bunga)

Bunga dapat dikatakan sebagai pengeluaran berasal dari pinjaman yang belum lunas. Terkecuali dengan perhitungan EBITDA, karena biasanya struktur pembiayaan dan struktur modal sebuah perusahaan mempunyai perbedaan yang menghasilkan beban bunga yang berlainan juga.

Tapi umumnya, pembayaran bunga bisa dikurangi dari pajak, Yang berarti perusahaan bisa mengambil profit dari manfaat ini sebagai pelindung pajak perusahaan.

Semakin majunya perkembangan teknologi digital saat ini semakin manjadi tantangan perpajakan  dalam bisnis ekonomi digital.

Sehingga, EBITDA sendiri akan membantu menambahkan kembali beban bunga bertujuan membandingkan kinerja relatif sebuah perusahaan.

3. Tax (Pajak)

Pajak adalah pengeluaran bisnis yang disebabkan oleh tarif pajak yang dikenakan atau dipungut oleh negara dan pemerintah secara keseluruhan.

Sebuah perusahaan dengan manajemen yang baik, membuat estimasi pajak harus dilakukan supaya dapat membayar pajak tepat waktu.

Jenis pajak sendiri bervariasi dan tergantung pada wilayah bisnis tersebut beroperasi. Biasanya akan mengalami perbedaan pada pajak daerah.

Sebaiknya Anda harus lebih teliti dalam membuat laporan pajak karena tidak sedikit kesalahan wajib pajak dalam Menyusun SPT.

Dengan mengurangi beban pajak ke dalam laba tidak akan menunjukkan kinerja bisnis secara keseluruhan. Sehingga, perhitungan ini akan menambahkan kembali komponen pajak yang ada didalamnya.

4. Depreciation dan Amortization

Penyusutan dapat disebut dengan biaya non-tunai yang mengacu pada penurunan nilai aset perusahaan secara bertahap.

Yang dimana, nilai depresiasi muncul secara historis dari aset perusahaan, dan bukan berdasarkan kinerja perusahaan.

Amortisasi adalah sebuah aturan akuntansi yang dilakukan untuk mengurangi nilai aset dan biaya (aktiva yang tidak ada wujudnya) secara bertahap. Amortisasi tidak jauh beda dengan depresiasi. Amortisasi dengan kata lain merupakan sebuah pengeluaran non-tunai yang merujuk pada biaya aset tidak ada wujudnya dari waktu ke waktu.

Kedua elemen ini akan sangat bergantung pada asumsi manfaat ekonomi dari aset, metode penyusutan yang digunakan, hingga nilai sisa di masa depan.

didalam laporan arus kas pada bagian kegiatan operasional, beban penyusutan dan amortisasi akan ditemukan.

Kedua beban ini akan ditambahkan kembali untuk mendapatkan angka pengeluaran kas yang sesungguhnya.

Fungsi EBITDA

Mengingat opini Warren Buffet yang sebelumnya bahwa EBITDA bukanlah gambaran yang baik untuk melihat arus kas perusahaan. Berikut 4 fungsi perhitungan EBITDA:

1. Membandingkan Tingkat Keuntungan

Fungsi yang pertama ini adlah membandingkan tingkat keuntungan. Melalui perhitungan EBITDA ini Anda dapat menganalisis dan membandingkan tingkat keuntungan antar perusahaan dan industri. hal ini diKarenakan perhitungan EBITDA dapat menghilangkan akibat dari keputusan keuangan dan akuntansi.

2. Memberikan Keleluasaan

Memberikan keleluasaan disini berarti Anda bisa memberikan kekuasaan kepada perusahaan terhadap laporan keuangan.

Perhitungan EBITDA merupakan catatan non-GAAP atau non kombinasi dan standar otoritatif dewan perusahaan, terkait pembuatan dan perekaman laporan keuangan.

jadi, perhitungan ini merupakan perhitungan yang tidak terikat dengan aturan perusahaan. Sehingga, akuntan bisa mendapatkan keleluasaan dalam membuat laporan keuangan.

3. Melihat Keuntungan

Perhitungan EBITDA ini bisa Anda jadikan acuan yang bermanfaat untuk melihat dan mengevaluasi keuntungan perusahaan. namun, perhitungan EBITDA tidak bisa dipakai untuk melihat arus kas.

4. Mempercantik Laba Perusahaan

Fungsi yang terakhir ini adalah dapat mempercantik laba perusahaan.

Laba atau profit yang tercatat dalam pendapatan ini belum dikurangi bunga, pajak, dan komponen lainnya.

Hal ini bisa membuat keuangan perusahaan terlihat baik-baik saja, yang nyatanya perusahaan masih mempunyai beban yang harus dituntaskan.

custom-form-newsletter


Kelemahan Perhitungan EBITDA

Berbanding terbalik dengan manfaat perhitungan  EBITDA juga mempunyai 2 kelemahan yang harus diperhitungkan. Berikut adalah kelemahan dari perhitungan EBITDA yang bisa Anda perhatikan sebelum menggunakannya.

1. Pencatatan Yang Tidak Sesuai

Pada perhitungan EBITDA perubahan modal kerja yang terjadi dalam perusahaan tersebut diabaikan. Sehingga dapat berpotensi memberikan bobot lebih terhadap arus kas, dalam suatu periode.

2. Tidak Sensitif Terhadap Tagihan Aktual

Perhitungan EBITDA ini tidak sensitif pada tagihan aktual perusahaan, hal ini dikarenakan mengabaikan perubahan-perubahan fundamental dalam modal kas.

Rumus Menghitung EBIT

Ada dua jenis rumus untuk menghitung EBIT (Pendapatan Sebelum Bunga dan Pajak) yaitu:

1. Rumus Menghitung EBIT Dengan Metode Langsung

Metode pertama adalah metode langsung yang dihitung dengan pengurangan  harga pokok penjualan dan biaya operasional dari total pendapatan.

EBIT = Total Penjualan – Harga Pokok Penjualan – Biaya Operasional

 2. Rumus Menghitung EBIT dengan Metode Tidak Langsung

Metode kedua adalah metode tidak langsung yang dimana ditambah dengan pajak dan bunga ke laba bersih.

EBIT = Laba Bersih + Pajak + Bunga

Seperti yang kita lihat, kedua perhitungan diatas adalah perhitungan yang sangat sederhana.

Rumus yang pertama mengartikan secara langsung apa yang harus dikeluarkan dari total pendapatan sedangkan rumus kedua menunjukan apa yang harus ditambahkan kembali ke dalam laba bersih.

Ada dua sudut pandang yang berbeda dari kedua rumus ini, yang pertama dari sudut pandang operasi awal dan yang kedua dari sudut pandang profitabilitas akhir tahun. Namun kedua-duanya mendapatkan hasil yang sama.

Cara Menghitung EBITDA

Mengingat pengertian EBITDA, nilai EBITDA dihitung dengan menambahkan kembali komponen pengeluaran nontunai suatu perusahaan, yakni depresiasi dan amortisasi, terhadap pendapatan atau laba perusahaan tersebut. Secara EBITDA formula dapat dituliskan sebagai berikut:

EBITDA = EBIT + Depresiasi + Amortisasi

Notes, EBIT adalah Earnings Before Interest and Taxes, atau pendapatan suatu perusahaan, sebelum dikurangi dengan bunga dan pajak.

Tapi jika dihitung dari laba bersihnya, maka pengertian EBITDA formula adalah sebagai berikut:

EBITDA = Laba operasional + Biaya Amortisasi + Beban Depresiasi

Selain rumus-rumus tersebut adapun istilah ratio EV/EBITDA yang sering terdengar dikalangan pebisnis.

EV/EBITDA adalah sebuah rasio yang berguna untuk membandingkan perusahaan publik lintasnegara. Sebab, rumus ini meniadakan efek distorsi kebijakan pajak yang hanya berlaku di suatu negara.

karena didalam EV ada unsur utang. Analis atau investor dapat memakai EV untuk menentukan harga saham perusahaan. Seringkali, analis atau investor memakai perbandingan EV dengan EBITDA (EV/EBITDA)

Dapat dianalisa dengan EBITDA yang semakin besar dari tahun ke tahun akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan profitabilitas yang semakin baik.

Dan dengan Anda lebih mengenal istilah EBITDA, tidak lupa juga harus membuat laporan keuangan yang rapih dan dengan seiring perkembangan teknologi anda dapat dibantu dengan sebuah software akuntansi yang dapat mempermudah Anda untuk mencatat setiap keuangan pada bisnis Anda tersebut.

Jangan sampai bisnis Anda memiliki profit namun Anda tidak bisa menggunakan profit itu sendiri dan keuangan bisnis Anda menjadi acak-acakan.

Untuk mencatat keuangan dengan baik dan rapi perlu suatu sistem pencatatan keuangan yang tidak hanya sekedar mencatat saja, namun sistem tersebut mampu secara fleksibel bisa digunakan dan cocok pada bisnis yang Anda jalankan saat ini. Sistem pencatatan keuangan tersebut Harmony Smart Accounting Solution.

Berawal dari rumitnya membuat sebuah pencatatan keuangan yang dibutuhkan masyarakat, Harmony Smart Accounting Solution kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi pebisnis dinamis dalam membantu mereka melakukan pencatatan keuangan bisnis yang sedang dijalankan.

Dengan teknologi tinggi dan user friendly, Harmony menjadi salah satu pilihan para ribuan pebisnis yang telah terbantu dalam hal laporan keuangan, seperti yang diinformasikan melalui konferensi tahunan kami di  FinTax Fair 2019 .

Mulai gunakan Harmony untuk membereskan pembukuan bisnis Anda dan dapatkan Gratis 30 Hari disini dengan mendaftarkan akun bisnis/ perusahaan Anda. Dan nikmati perkembangan dunia akuntansi dan laporan keuangan berbasis teknologi dalam genggaman Anda hanya di Harmony Smart Accounting Solution.

Pembukuan Lebih Mudah!
Mengatur keuangan bukan lagi mimpi buruk
Subscribe Harmony Blog
Dapatkan laporan penuh ini dengan mencantumkan nama.
Pembukuan Lebih Mudah!
Mengatur keuangan bukan lagi mimpi buruk
Apa tanggapan Anda mengenai artikel ini?
Email Anda tidak akan terpublikasikan
Terima kasih telah berlangganan.
Anda akan menerima informasi terbaru dan artikel menarik di email Anda.
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/arrow-up.png
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/arrow-down.png
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/main-features/