Cara Menghitung Inflasi dan Respon Pemerintah untuk Mengatasinya
Harmony Blog
Finance
Cara Menghitung Inflasi dan Respon Pemerintah untuk Mengatasinya
February 3, 2021
Berlangganan newsletter kami
Dapatkan Tips Keuangan Dengan Berlangganan Newsletter Harmony, isi data berikut ini :

Setiap negara yang ada di dunia ini dipastikan pernah mengalami inflasi. Definisi inflasi bisa dimengerti sebagai kenaikan harga yang terjadi terus menerus dalam periode tertentu. Konsep dasar yang bisa digunakan sebagai cara menghitung inflasi adalah dengan melihat kenaikan harga yang pada umumnya terjadi karena peningkatan permintaan dalam negeri.

Cara menghitung inflasi harus melibatkan indikator-indikator yang ada. Meskipun dalam kasus yang terjadi inflasi bisa melibatkan lebih banyak indikator, tetapi cara menghitung inflasi bisa dilakukan dengan teknik dan metode yang sama.

Dalam cara menghitung inflasi, perlu dilakukan terlebih dahulu pengukuran indeks Harga Konsumen (IHK) yang meliputi pengeluaran yang umum dilakukan masyarakat.

Pengertian dan Konsep Dasar Inflasi

Jika merujuk pada pengertian dari Bank Indonesia, inflasi bisa diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Ciri dari inflasi harus melibatkan kenaikan segala jenis produk. Jika hanya satu atau dua produk saja yang naik harganya, maka tidak bisa disebut sebagai inflasi.

Ketika kenaikan harga di suatu negara meluas, maka secara otomatis nilai mata uang akan menurun. Selanjutnya akan berdampak pada daya beli masyarakat dalam jangka waktu tertentu yang akan ikut turun.

Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk mengidentifikasi tingkat inflasi dan melakukan kebijakan yang tepat untuk mengatasinya karena secara langsung akan berdampak pada pendapatan nasional.

Salah satu indikator yang sangat penting untuk cara menghitung inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Indikator ini sangat berperan dalam penentuan tingkat inflasi. Untuk mengetahuinya, Badan Pusat Statistika (BPS) akan melakukan Survei Biaya Hidup (SBH).

Dalam cara menghitung inflasi, perlu dilakukan terlebih dahulu pengukuran IHK yang meliputi pengeluaran yang umum dilakukan masyarakat. Misalnya pengeluaran untuk sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Baca Juga : Mengetahui Perbedaan Uang Kartal dan Uang Giral

Sebagai contoh permasalah inflasi adalah ketika harga suatu produk konsumtif pada saat ini harus dibayarkan sebesar Rp 50.000,00. Padahal, 4 bulan yang lalu harga produk tersebut hanya Rp 15.000,00 saja.

Dari permasalahan tersebut tampak bahwa ada perbedaan harga yang cukup signifikan untuk komoditas yang sama dalam periode tertentu. Namun, inflasi bukan sekadar merujuk pada perbedaan nominal saja, tetapi berdampak pula pada menurunnya nilai mata uang.

Jika 4 bulan yang lalu uang senilai Rp 50.000,00 bisa digunakan untuk membeli setidaknya 3 unit produk, maka sekarang uang tersebut hanya cukup untuk 1 unit produk yang serupa.

Jenis-Jenis Inflasi

Jenis inflasi bisa diklasifikasikan berdasarkan faktor penyebab terjadinya inflasi dan besar laju inflasi. Dari sumber penyebabnya, inflasi bisa diklasifikasikan menjadi 2 jenis inflasi, yaitu domestic inflation dan imported inflation.

Domestik inflation atau inflasi dalam negeri merupakan inflasi yang terjadi karena faktor internal pemerintahan suatu negara. Biasanya, jenis inflasi ini akan diawali dengan adanya defisit dalam APBN.

Selain itu, penyebab inflasi dalam negeri juga bisa karena faktor meningkatkan permintaan produk dari masyarakat yang tidak bisa diimbangi dengan penawaran serta meningkatnya anggaran produksi dalam negeri.

Hal-hal tersebut sangat umum menjadi penyebab inflasi di Indonesia. Sementara untuk imported inflation atau inflasi internasional merupakan Inflasi ini muncul karena naiknya harga-harga kebutuhan di luar negeri, khususnya negara-negara yang menjadi mitra dagang.

Jika dilihat dari besar laju inflasi, ada 4 jenis inflasi yang terjadi pada suatu negara. Keempat jenis inflasi tersebut antara lain:

• Creeping Inflation (inflasi ringan) dengan laju inflasi kurang dari 10% per tahun.

• Galloping inflation (inflasi sedang) dengan laju inflasi antara 10% sampai dengan 30% per tahun

• High Inflation (inflasi berat) dengan laju inflasi 30% sampai dengan 100% per tahun.

• Hyperinflation (Inflasi sangat berat) dengan laju inflasi lebih dari 100% per tahun.

Cara Menghitung Laju Inflasi

Cara menghitung inflasi merupakan salah satu upaya untuk mengetahui tentang kondisi ekonomi Indonesia.

Cara menghitung inflasi dapat dilakukan dengan menggunakan indikator yang ada dan angka yang didapat dari berbagai sumber dalam jangka waktu tertentu. Intinya, jika tren harga terus naik dan bertahan, maka sudah menjadi salah satu tanda bahwa inflasi sudah terjadi.

Indikator yang diperlukan dalam cara menghitung laju inflasi antara lain Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Produsen, Indeks Harga Komoditas, Indeks Biaya Hidup, dan Produksi Domestik Bruto (PDB).

custom-form-newsletter

Setelah indikator tersedia, maka cara menghitungnya bisa dilakukan dengan menghitung selisih angka kenaikan tiap indikator kemudian dibagi dengan angka kenaikan akhir dan dikalikan dengan 100%.

Untuk memudahkan dalam memahami cara menghitung laju inflasi, bisa digunakan rumus laju inflasi berikut:

Contoh Perhitungan Laju Inflasi

Misalnya, IHK BBM Tahun 2009 adalah Rp Rp 4.000,00 per liter. Sementara IHK BBM tahun 2020 adalah Rp 6.550,00 per liter.

Dari contoh di atas dapat dihitung laju inflasi yang terjadi dengan rumus laju inflasi sebagai berikut:

Jadi, selama kurang lebih 11 tahun, inflasi yang terjadi jika dilihat dari IHK BBM Tahun 2009 dan IHK BBM tahun 2020 adalah adalah 38,9%. Untuk mengetahui rata-rata inflasi per tahun, bisa dilakukan dengan cara 38,9% : 11 = 3,5%.

Respon Pemerintah untuk Mengatasi Laju Inflasi

Pemerintah harus bisa membuat berbagai kebijakan, instrumen, serta strategi yang tepat untuk mengatasi inflasi yang terjadi di masyarakat. Jika ditinjau dari kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, kestabilan angka inflasi adalah 3,5%.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah membuat program 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, koordinasi komunikasi yang efektif, dan Kelancaran dalam distribusi.

Dari program 4K tersebut, diharapkan akan banyak membantu untuk menghadang inflasi yang tergolong high inflation dan hyperinflation.

Jika inflasi terjadi, maka perusahaan dan bisnis akan terkena imbasnya. Maka dari itu, agar aman dari inflasi, cara terbaik yang bisa Anda lakukan adalah menjaga kestabilan ekonomi usaha Anda.

Software akuntansi Harmony akan sangat berguna untuk memproteksi keuangan usaha Anda dari hal-hal yang mungkin saja akan merusak kestabilan siklus akuntansi. Untuk membuktikannya, Anda bisa melakukan pendaftaran di sini.

Dan dapatkan  Software Akuntansi Harmony GRATIS 30 hari. Mau update info seputar finansial tiap hari? Ikuti akun Facebook, Instagram dan LinkedIn Harmony. Ingin terima beres laporan keuangan perusahaan Anda? Jangan khawatir, Anda bisa menggunakan Harmony Accounting Service yaitu jasa pembuatan laporan keuangan dengan harga terjangkau yang dikerjakan oleh profesional berpengalaman dalam bidang akuntansi.

Pembukuan Lebih Mudah!
Mengatur keuangan bukan lagi mimpi buruk
Subscribe Harmony Blog
Dapatkan laporan penuh ini dengan mencantumkan nama.
Pembukuan Lebih Mudah!
Mengatur keuangan bukan lagi mimpi buruk
Apa tanggapan Anda mengenai artikel ini?
Email Anda tidak akan terpublikasikan
Terima kasih telah berlangganan.
Anda akan menerima informasi terbaru dan artikel menarik di email Anda.
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/arrow-up.png
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/arrow-down.png
https://www.harmony.co.id/wp-content/themes/harmonytheme/images/main-features/